Rabu, 23 Mei 2012

RAINBOW ? :/

By the way, anyway, mumpung lagi ada busway, saya mau cerita-ceriti nih. Mau tau tentang apa ? Tunggu setelah Anda membaca postingan ini sampai bawah (?)
Umm... Saya mau cerita tentang nama blog ini nih. Namanya kan R.A.I.N.BOW! Artinya kan Pelangi. Nah, dari dulu saya suka banget nih sama pelangi. Dari warnanya sampai proses terjadinya saya suka.
Pelangi itu hadir dikala air yang menghujan bumi telah berakhir. Nah, harapannya blog ini bisa mewarnai hari-hari kalian dengan postingan gila saya-_- Semoga blog ini bisa menjadi obat galau, sendu, atau yang lainnya deh.
Makanya follow blog saya deh, biar tambah semangat nge-blog (?) dan yang terpenting jangan pernah bosen baca postingan gila saya-_-
Sekian dan terimakasih! *ngacir*

Jumat, 27 April 2012

Puisi Emansipasi Wanita

EMANSIPASI WANITA

Mungkin kaum wanita di anggap rendah
Tak berguna
Tapi tidak dengan Kartini
Dia sangat berjasa bagi kaum wanita Nusantara

Beri semangat untuk kaum wanita
Ia pendekar bangsa
Pendekar kaumnya, wanita
Untuk merdeka dalam kesengsaraan

Pergerakan nasionalisme ia rintis
Emansipasi wanita, sebutnya

Puisi RA. KARTINI

R.A KARTINI

Oh Ibu Kartini...
Engkaulah pahlawan wanita sejati
Karena kau wanita Indonesia dapat belajar
Karena jasamu pula wanita dapat berguna

Oh Ibu Kartini...
Engkau pahlawan emansipasi wanti
Karena kaulah yang mendirikan sekolah Kartini
Kami wanita dapat berkreasi
Dapat menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa

Oh Ibu Kartini...
Begitu harum namamu
Menyemangati kaum wanita Nusantara
Untuk ikut berperan serta 
Dalam pembangunan negeri Indonesia

Sabtu, 21 April 2012

Surat-surat RA. Kartini

RA. Kartini kini telah tiada dan tinggal sejarahnya, atas kegigihannya kini kaum wanita telah maju dan sejajar dengan kaum pria berkat goresan penanya semasa hidup yang kita kenal dengan buku ""HABIS GELAP TERBITLAH TERANG""
Berikut ini isi beberapa surat RA. Kartini : 

“Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun ia sebenar-benarnya bebas.”
[Surat Kartini kepada Ny. Ovink, Oktober 1900]

“Supaya Nyonya jangan ragu-ragu, marilah saya katakan ini saja dahulu: Yakinlah Nyonya, KAMI AKAN TETAP MEMELUK AGAMA KAMI yang sekarang ini. Serta dengan Nyonya kami berharap dengan senangnya, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja MEMBUAT UMAT AGAMA LAIN MEMANDANG AGAMA ISLAM PATUT DISUKAI . . . ALLAHU AKBAR! Kita katakan sebagai orang Islam, dan bersama kita juga semua insan yang percaya kepada Satu Allah, Gusti Allah, Pencipta Alam Semesta" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

"Bagaimana pendapatmu tentang ZENDING (Diakonia), jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta-kasih, bukan dalam KRISTENISASI? Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya . . . Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi JANGAN MENG-KRISTEN-KAN ORANG! Mungkinkah itu dilakukan?"
[Surat Kartini kepada E.C. Abendanon, 31 Januari 1903]

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan…”

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdullah).”
[Surat Kartini kepada Ny. E.C. Abendanon, 1 Agustus 1903]

R.A. Kartini dan Pandangannya Terhadap Emansipasi dan Barat

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, BUKAN SEKALI-SEKALI KARENA KAMI MENGINGINKAN ANAK-ANAK PEREMPUAN ITU MENJADI SAINGAN LAKI-LAKI DALAM PERJUANGAN HIDUPNYA. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."
[Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan.”
[Surat Kartini kepada Ny. E.E. Abendanon, 10 Juni 1902]

"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?"
 [Surat Kartini kepada Ny. E.C. Abendanon, 27 Oktober 1902]

Lagu Ibu Kita Kartini

Ibu kita Kartini, Putri sejati
Putri Indonesia, Harum namanya
Ibu kita Kartini, Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya, Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini, Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, Bagi Indonesia
Ibu kita Kartini, Putri jauhari
Putri yang berjasa, Se Indonesia
Ibu kita Kartini, Putri yang suci
Putri yang merdeka, Cita-citanya
Wahai ibu kita Kartini, Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, Bagi Indonesia
Ibu kita Kartini, Pendekar bangsa
Pendeka kaum ibu, Se-Indonesia
Ibu kita Kartini, Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya, Karena cintanya
Wahai ibu kita Kartini, Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, Bagi Indonesia

Sejarah RA. Kartini

Raden Adjeng Kartini adalah putri dari seseorang dari kalangan berdarah biru (kaum bangsawan) yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dengan M.A Ngasirah. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung ataupun tiri. Kartini adalah anak perempuan pertama dari seluruh saudaranya.
Sampai usia 12 tahun Kartini dapat bersekolah di ELS (Europese Lagere School), di sana ia dapat belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun ia sudah tidak di perbolehkan sekolah dan harus di pingit. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda maka ia mengirim surat kepada temannya yang berasal dari Belanda. Salah satunya Rosa Abendanon. Ia memperoleh informasi tentang kemajuan perempuan di Belanda dari buku, koran ataupun majalah Eropa. Dari situlah timbul keinginan Kartini untuk memajukan perempuan Indonesia, karena pada saat itu perempuan di anggap statusnya lebih rendah dari pada kaum pria.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief. Di antara majalah-majalah ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang cukup berat, ia juga membaca majalah wanita Belanda yaitu De Hollandsche Lelie. Kartini juga mengirimkan beberapa tulisannya dan selalu di muat di majalah tersebut. Perhatiannya tidak hanya pada emansipasi wanita, tetapi juga pada beberapa masalah sosial umum. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Pada tanggal 12 November 1903 Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhinningrat yang sudah mempunyai tiga istri. Suami Kartini mengerti keinginannya dan ia diberi kebebasan mendirikan sekolah untuk wanita di kompeks kantor bupati Rembang.
Anak pertamanya sekaligus anak terakhirnya, R.M Soesalit lahir pada 13 September 1904. Beberapa hari kemudiaan Kartini meninggal pada 17 September 1904 pada usia 25 tahun dan dimakamkan di desa Bulu, kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Coboyjr - eeeaa #2ndSingleCoboyjr




Hei kamu hatiku dag dig dug
Saat aku melihatmu jatuh di hadapanku
Membuat aku buru-buru mendekatimu
Langsung ku tanyakan apa kau baik-baik saja
Kau bingung, ”memang aku jatuh darimana?”
Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeaa
Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku eeeaa
So baby please be mine, please be mine oh mine eeeaa
Karena hanya aku sang pangeran impianmu
Eeeaa eeeaa eeeaa eeeaa

Hei kamu hatiku dag dig dug
Saat aku melihatmu, ku tarik panjang nafasku
Mantapkan langkahku untuk mendekatimu
Langsung ku tanya maukah kamu jadi pacarku
Kau bingung, ”kenapa kamu suka sama aku?” (jawabannya)
Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeaa
Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku eeeaa
So baby please be mine, please be mine oh mine eeeaa
Karena hanya aku sang pangeran impianmu
Eeeaa eeeaa eeeaa eeeaa
Andai kamu jadi gula, aku pasti semutnya
Kan ku seberangi lautan samudera
Hei hei baru kali ini aku jadi galau gini
Cepat terima aku, cinta pertamaku
Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku
(baby please be mine, eeeaa, baby please be mine)
Kau bidadari jatuh dari surga, kau di hatiku
(baby please be mine, eeeaa, baby please be mine)
Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeaa
Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku eeeaa
So baby please be mine, please be mine oh mine eeeaa
Karena hanya aku sang pangeran impianmu
Eeeaa eeeaa eeeaa eeeaa
Ini lagu gombal tuk dapetin kamu
Ini lagu gombal tuk dapetin kamu